Sejarah Mata Uang Pertama di Indonesia Dari Masa ke Masa

Erwin Alfatih March 27, 2024

Siapa yang tahu sejarah mata uang di Indonesia? Uang rupiah yang kita gunakan saat ini sudah mengalami beberapa kali perubahan lho! Padahal, setelah kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, rupiah tidak langsung kita gunakan.

Nama rupiah ini disahkan pada beberapa tahun setelah proklamasi. Nah, tentu saja kamu sudah penasaran dengan mata uang apa saja yang digunakan pada saat nusantara ini masih berbentuk kerajaan, bahkan dengan rupiah. Berikut ini sejarah lengkap mata uang Indonesia untuk kamu cek dari masa ke mas. Yuk simak terus ulasan yang kami berikan kepada kamu semua berikut ini!

Mata Uang Indonesia Pada Zaman Kerajaan

Sebelum merdeka, Indonesia disebut Nusantara yang menjadi tempat berdirinya banyak kerajaan. Misalnya saja kerajaan Sriwijaya, kerajaan Majapahit, kerajaan Mataram kuno dan sebagainya. Saat itu, jual beli dengan uang sangat umum. Namun, uang yang beredar bukanlah uang kertas, melainkan logam. Bahan dasar uang logam tersebut biasanya berupa emas atau perak.

Simak Juga : Cara Menghasilkan Uang Dari HP Hingga Jutaan Tanpa Modal

1. Mata Uang Pada Kerajaan Hindu – Buddha

sejarah uang

Sebelumnya, sistem barter digunakan bahkan sebelum kerajaan Hindu-Buddha. Namun, untuk alat pembayaran tersebut kemudian digunakan sebagai pengganti sistem barter.

Dulu, mata uang pertama yang ada di Indonesia adalah berbagai bahan – bahan yang sederhana. Misalnya di Papua menggunakan uang berupa kerang, manik – manik di Bengkulu dan Pekalongan, serta Belicung di daerah Bekasi. Alat pembayaran ini mengalami kemajuan pada masa kerajaan Hindu-Buddha, terutama dalam hal bahan dan desain.

Beberapa contoh mata uang di berbagai kerajaan di Indonesia sebagai berikut.

  • Mata uang Kerajaan Jenggala adalah uang Krisnala atau uang Ma yang digunakan pada tahun 1040. Uang Mas ini merupakan mata uang tertua di Indonesia yang terdiri dari emas dan perak.
  • Mata uang Kerajaan Buton adalah Kampua yang beredar pada abad ke-14 dan terbuat dari kain katun berukuran 140mm x 170mm.
  • Mata uang Kerajaan Majapahit adalah mata uang gobog logam tembaga.

2. Mata Uang Pada Kerajaan Islam

mata uang kerajaan islam

Ketika Islam mulai berkembang di Nusantara, muncul juga mata uang dari kerajaan-kerajaan Islam, seperti Kerajaan Samudra Pasai, Kerajaan Aceh, Kerajaan Jambi dan sebagainya . Pada umumnya, mata uang yang dikeluarkan oleh Kerajaan Islam ditulis dalam bahasa Arab. Misalnya, uang asli dari Jambi yang bertuliskan “Sanat 1256” dalam bahasa Arab di bagian belakang dan “Cholafat al Mukmin” di bagian depan.

Ada juga mata uang dirham yang terbuat dari emas juga digunakan di kerajaan Samudra Pasai. Uang berbentuk koin itu diukir nama sultan dengan gelar Malik Az-Zahrir atau Malik At-Tahir.

Mata Uang Indonesia Pada Zaman Penjajahan Belanda

mata uang indonesia pada zaman penjajahan indonesia

Setelah Belanda datang dan menjajah kerajaan-kerajaan yang ada di wilayah Nusantara, mereka berusaha mengganti semua mata uang asing yang beredar di sana. Pemerintah Hindia Belanda (wilayah Indonesia sebelum kemerdekaan) mendirikan De Javasche Bank (DJB) pada tahun 1828. De Javasche Bank inilah yang menjadi cikal bakal Bank Indonesia sampai saat ini.

Saat itu, De Javasche Bank mengeluarkan mata uang sen dan gulden. Kedua mata uang ini khusus digunakan hanya di wilayah Hindia Belanda saja.

Mata Uang Pada Zaman Penjajahan Jepang

mata uang indonesia pada zaman penjajahan jepang

Mata uang yang digunakan pada masa pendudukan Jepang adalah uang invasi. Emisi pertama masih berbahasa Belanda, tepatnya tahun 1942. Baru pada emisi kedua diterbitkan dengan judul “Pemerintahan Dai Nippon”. Setelah pasukan Sekutu mendarat di Tanjung Priok pada tanggal 29 September 1945, penggunaan mata uang invasi dilarang. Sebagai gantinya mata uang NICA digunakan.

Simak Juga : Tdomino Boxiangyx Login Alat Mitra Higgs Domino APK

Ada 5 Mata Uang Sejarah Pada Masa Awal Kemerdekaan

Pada masa awal kemerdekaan, ada beberapa mata uang sejarah yang beredar di Indonesia. Berikut perkembangan mata uang di Indonesia dari masa ke masa semenjak kemerdekaan.

1. Uang NICA

mata uang nica

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, situasi keuangan Indonesia memburuk secara signifikan. Semua mata uang logam baru yang beredar banyak digunakan dalam transaksi, baik mata uang logam Hindia Belanda maupun mata uang logam terbitan Jepang. Saat itu, Indonesia memiliki 4 sah, antara lain:

  • Bank De Javasche
  • De Japansche Regeering
  • Dai Nippon Emisi
  • Dai Nippon Teikoku Seibu

Kondisi ini semakin diperparah dengan kedatangan pasukan sekutu yang dikenal dengan NICA (Netherlands Indies Civil Administration). NICA menarik semua uang yang beredar di Indonesia dan menggantinya dengan “NICA Gulden” atau uang NICA.

Para pejuang saat itu menolak uang NICA karena menampilkan Ratu Wilhelmina, lambang kerajaan dan bahasa Belanda. Ketika saat uang tersebut sudah tiba di pulau jawa, Bung Karno mendeklarasikan bahwa uang NICA itu tidak sah.

Uang Republik Indonesia Serikat (RIS)

mata uang republik indonesia serikat

Perubahan dari sistem pemerintahan Indonesia menjadi sistem serikat juga membuat mata uang mereka mengalami hal serupa. Pemerintah Indonesia telah mencabut peredaran ORI dan ORIDA sejak tahun 1950. Sebaliknya pada mulai 1 Januari 1950 di ubah menjadi mata uang RIS

Mata uang RIS ini juga tidak bertahan lama. Perubahan kembali ke mode pemerintahan ke sistem republik, namu juga membuat mata uang RIS ditarik oleh pemerintah.

Oeang Republik Indonesia (ORI)

mata uang oeang republik indonesia

Indonesia yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya, langsung mulai menciptakan mata uangnya sendiri. Namun sayangnya, hal ini dibatasi oleh sumber daya untuk membuat dan mencetak mata uang tersebut.

Setelah perjuangan yang sangat keras, akhirnya pemerintah Indonesia berhasil mencetak dan mengeluarkan uangnya sendiri pada tanggal 3 Oktober 1946. Uang ini dikenal dengan nama ORI atau Oeang Republik Indonesia. ORI adalah mata uang rupiah yang pertama kali dikeluarkan di Indonesia.

Semua uang yang diterbitkan di Jepang harus ditukar dengan ORI. Standar nilai tukar ORI ditetapkan dengan harga, 1 ORI = 50 Rupiah Hindia Belanda. Pemerintah juga menetapkan 1 ORI sama dengan 0,5 gram emas. Namun, ORI mengalami masalah keuangan yang menyebabkan inflasi tak terkendali. Pada bulan Maret 1947, nilai tukar ORI turun dari 5 gulden NICA menjadi 0,3 gulden NICA.

Turunnya ORI sebenarnya disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya agresi militer Belanda yang memperkecil wilayah NKRI, pemerintah Belanda yang memalsukan ORI untuk menurunkan nilainya turun akibat inflasi, dan NICA yang kerap mengintimidasi masyarakat Indonesia yang menyimpan atau menggunakan ORI.

Oleh karena itu, sulit bagi pemerintah Indonesia untuk menyatukan Indonesia sebagai satu kesatuan yang moneter. Sehingga, pada tahun 1947 pemerintah memberikan mandat kepada pemerintah daerah untuk mengeluarkan mata uang lokal yaitu ORI daerah (ORIDA) yang dimaksudkan untuk melawan mata uang NICA.

Mata Uang Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA)

mata uang oeang republik indonesia daerah

ORIDA hanya berlaku sementara di daerah masing-masing. Sepanjang tahun 1947-1950, ORI-Daerah atau disebut juga dangan ORIDA terbit di beberapa provinsi, seperti Sumatra, Banten, Tapanuli, dan Banda Aceh.

Artikel Terkait